fbpx

Walaupun bukan merupakan salah satu dari Rukun Islam, akan tetapi Umat Islam lebih semarak dalam merayakan Qurban dibandingkan kewajiban ber-zakat. Hal ini dikarenakan Ibadah Qurban merupakan salah satu ibadah yang sempurna sepanjang hayat manusia, serta ajaran tertua sepanjang sejarah kehidupan manusia yang terus berlangsung hingga saat ini.

Perintah ini diungkap dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar, 108: 2; surat Al-Hajj, 22: 34-35 dan ayat 36; serta surat Ash-Shaffat, 37: 102-107. Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Qurban memiliki dua sisi yang tidak bisa dipisahkan – sisi transendental dan sisi sosial atau dengan bahasa lain Qurban adalah ibadah dua arah, yakni ibadah hablu minallah sekaligus hablu minannas. Ada sisi transendental dalam hubungan manusia dengan penciptanya (hablu minallah), juga bisa sisi sosial dalam kaitan manusia dalam hubungannya dengan sesama (hablu minannas).

Fenomena berQurban kadang tidak terkait langsung dengan tingkat kesejahteraan, jadi fenomena ini akan terus meningkat, bahkan di saat ekonomi yang tidak baik seperti krisis ekonomi saat ini. Terbukti  jika respon umat Islam sangat besar dalam melaksanakan ajaran Qurban, sehingga dari tahun ke tahun kebutuhan hewan Qurban selalu naik dengan rata-rata kenaikan 5% secara nasional.

Baca juga: Bingung Mengolah Daging Qurban? Yuk Intip Resep Sederhana dan Lezat Mengolah Daging Qurban

Menurut Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita, pada Idul Adha 2019 kebutuhan pemotongan hewan Qurban mencapai 1.346.712 ekor, terdiri dari 376.487 ekor sapi, 12.958 ekor kerbau, 716.089 ekor kambing, dan 241.178 ekor domba. Besarnya jumlah binatang ternak yang dijadikan Qurban ini, kalau dirupiahkan sangat besar secara ekonomi atau senilai Rp. 9,6 Trilyun.

Problem utama keberagamaan kita sekarang sekurang-kurangnya ada dua, yakni gagalnya menggali nilai sebuah ibadah dan mengaktualisasikannya dalam konteks kekinian. Seperti qurban hanya menjadi ibadah yang dikerjakan berulang-ulang yang kehilangan relevansinya di abad milenial ini.

Dengan mengatakan bahwa ritus beragama sebagai simbol, bukan berarti hendak menanggalkan ibadah tersebut ketika telah digali nilai dibaliknya. Tidak demikian. Sebab agama tanpa ibadah  tak lagi bisa dikatakan sebagai agama. Sebagai sebuah nilai hidup di antara nilai-nilai lainnya di dunia, agama selalu relevan, kalau mampu mengaktulisasikannya dalam kondisi yang paling mutakhir.

Semua ritus ibadah dalam Islam selalu berdimensi sosial, atau bisa dikatakan semua ibadah dalam Islam adalah simbolisasi perjuangan sosial yang material, iman dan historis. Namun dari semua peribadatan dalam  Islam, qurban menjadi salah sebuah ibadah  yang paling mudah ditangkap maksudnya. Sehingga wajar, di dalam Islam ibadah sosial lebih diprioritaskan, ketimbang ibadah individual.

Yang terjadi  di Indonesia justru sebaliknya, karena  ibadah individual lebih diutamakan ketimbang ibadah sosial. Seharusnya spirit qurban bisa mengantisipasi persoalan sosial di negeri ini, seperti ketimpangan sosial yang kian melebar. Tahun ini, sebuah LSM  dari Inggris  merilis laporan yang menyatakan bahwa harta empat orang terkaya di Indonesia mencapai US$ 25 miliar atau setara Rp 333,8 triliun. Sedangkan total kekayaan 100 juta penduduk miskin di Indonesia sebesar US$ 24 miliar atau sekitar Rp 320,3 triliun. Itu artinya, kekayaan empat orang terkaya di Indonesia adalah sama dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin.

Baca juga: DQ Dampingi MCI Jawa Timur Terima Donasi Yayasan Seribu Senyum

Rilis lembaga tersebut berdasar pada laporan Credit Suisse yang menyebutkan bahwa 40 persen atau 100 juta penduduk miskin Indonesia memiliki kekayaan 1,36 persen dari total kekayaan penduduk nasional. Dari data tersebut disimpulkan bahwa kekayaan 40 persen penduduk termiskin Indonesia sebesar US$ 24 miliar atau setara Rp 320 triliun.

Ketimpangan sosial yang terjadi sesungguhnya tak hanya tantangan nasional, tapi juga global. Satu persen manusia menguasai sembilan puluh sembilan persen hajat hidup manusia lainnya. Salah sebuah upaya mengaktualisasi qurban adalah membacanya sebagai visi sosial Islam yang secara eksplisit tercermin dalam pengorbanan atas apa yang paling dicintai untuk kehidupan yang lebih baik sebagai jalan meraih keberkahan hidup seorang muslim.

Betapa sering ibadah Qurban dilakukan umat muslim bahkan sudah menjadi tradisi setiap tahun namun ternyata kegiatan ini lebih banyak dilakukan di Masjid dan masing-masing individu yang kemanfaatannya bersifat lokal. Dibutuhkan pemahaman dan edukasi yang lebih baik lagi bahwa ada acara berqurban dengan manfaat yang lebih luas dan memiliki dampak yang hebat dalam sisi pemberdayaan dan penerima manfaat. Oleh karenanya kegiatan Qurban yang dilakukan harus bersifat emosional, menginspirasi, menggerakkan, dan diyakini sebagai keuntungan lebih yang didapat lebih dari sekedar sembelihan.

Melihat Itu semua DQ berupaya membuat program Qurban yang mampu menggerakan ekonomi umat. Nama program Qurban itu adalah Qurbanolagi. Spirit program Qurbanolagi adalah konsistensi dan keberlanjutan manfaat Qurban. Lewat Qurbanologi, DQ berupaya untuk menjadikan qurban sebagai titik awal kebangkitan ekonomi umat. Maka, jangan lagi ragu untuk terlibat dalam upaya kebangkitan ekonomi umat. Lewat program qurbanolagi, kita yakinkan dunia, bahwa qurban bisa membaut ekonomi umat semakin kuat.

Hotline kerja sama 0813 8500 2300

Share This