fbpx

Hati manusia menyimpan segudang misteri. Tanpa hati, manusia hanya akan bertindak dengan akal tanpa nurani. Sebuah Empati ada untuk menggugah nurani tanpa akal menguasai. Tolong menolong menjadi rantai keselamatan antar saudara sebagai bentuk Empati.

Empati menjadi kado terindah dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk tiap manusia. Dengan adanya hal tersebut, ego tidak akan menguasai manusia dalam bertindak. Sama halnya ketika menolong orang lain, jika rasa Empati dilibatkan maka hubungan silaturrahim sesama saudara akan semakin erat, kasih sayang akan semakin tumbuh dan kebencian akan semakin memudar.

Sementara itu, Indonesia sekarang menangis. Ditimpa bencana alam berturut-turut sontak membuat semua pihak berada dalam trauma berkepanjangan, khusunya masyarakat dari Pulau Lombok yang mendapat sebutan Pulau Seribu Masjid. Gempa tak henti-hentinya meluluh lantakkan bangunan-bangunan dan hati masyarakat Lombok.

Empati Hadir agar Manusia Saling Merasakan

Empati ditilik dari bahasa berasal dari kata Empatheia yang berarti ikut merasakan. Istilah kata ini sering dipakai oleh teoritikus estetika untuk mendefinisikan pengalaman subyektif orang lain. Kemudian, menurut E.B. Tichener seorang ahli psikologi dari Amerika mengistilahkan Empati dengan mimikri motor. Yang ia maksud adalah Empati berasal dari peniruan fisik atas beban orang lain yang kemudian menimbulkan perasaan serupa dalam diri seseorang.

Sedangkan menurut M. Umar dan Ahmadi Ali dalam buku Psikologi Umum, Empati adalah suatu kecenderungan yang dirasakan seseorang untuk merasakan sesuatu yang dirasakan oleh orang lain andaikan Ia berada dalam situasi orang lain. Menarik dari definisi para ahli tersebut, Empati adalah rasa seperjuangan, sependeritaan yang dapat dialami siapa saja ketika melihat orang lain mengalami suatu peristiwa baik menyedihkan maupun membahagiakan.

Empati dan Tolong Menolong adalah Satu Kesatuan

Di sisi lain, terkait dengan bencana alam yang terjadi di Indonesia menjadikan semua pihak dan lembaga kemanusiaan saling bahu membahu membantu meringankan beban penderitaan warga Lombok. Ini membuktikan bahwa semua pihak tergugah nuraninya dan berempati terhadap warga Lombok yang sedang ditimpa bencana.

Dalam Al Quran, dijelaskan bahwa setiap muslim wajib tolong menolong dalam hal takwa dan kebaikan. Dalam surat Al Maidah: 2 berbunyi, “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” Karenanya, tiap muslim sangat wajib untuk bahu membahu membantu saudaranya.

Demikian bukan hanya Al Quran yang memaparkan tentang tolong menolong, dalam hadits pun dipaparkan. Di dalam hadits riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa melapangkan satu kesusahan di dunia dari seorang mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat.”

Karenanya, dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam memandang Empati dan tolong menolong sebagai satu kesatuan, seketika nurani tergugah seketika itu pula tolong menolong menjadi bentuk riil dari nurani.

Sementara itu, Ustadz Abdullah Gymnastiar atau yang akrab disapa Aa’ Gym menjelaskan dalam tulisannya bahwa sebenarnya kesuksesan sejati adalah ketika kita bisa menjadi manfaat bagi orang lain, meringankan bebannya, menutupi kekurangannya, meski keadaan kita pun sederhana saja. “Andaikata ada seseorang yang merasa sukses, padahal baru dirinya sendiri yang sukses, maka sebenarnya dia belum sukses,” tambah Pengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhid Bandung-Jakarta tersebut.

Karenanya, membantu atau tolong menolong sama saudara merupakan kesuksesan bersama. Bukan hanya sukses untuk diri sendiri namun juga untuk orang lain. “Jangan sampai kita sekali makan ratusan ribu, punya mobil seharga ratusan juta, tapi ada saudara atau tetangga kita yang tak bisa makan, tak bisa membayar uang sekolah, apalagi membeli rumah,” ia mencontohkan.

Kemudian, jika mengambil pendapat Aa’ Gym, meringankan beban orang lain dapat dilakukan dengan saling tolong menolong di antara saudara yang membutuhkan. Contoh nyata yang bisa dilakukan terkait dengan bencana di Lombok yang baru saja terjadi diantaranya, menyumbang sedikit harta yang dimiliki ataupun terjun menjadi relawan disana untuk menghapuskan trauma mereka dan memberdayakan kembali mereka yang sebelumnya terombang-ambing baik fisik maupun psikisnya karena bencana yang terus menerus melanda. Akan sangat baik sekali, jika bantuan-bantuan yang telah dilakukan dapat memiliki manfaat yang berkesinambungan tak hanya sekali dua kali namun seterusnya.

Dengan demikian, tolong menolong atau saling membantu sesama saudara ini menjadikan kewajiban bagi kita semua. Semakin mempererat tali silaturrahim, semangat membantu tanpa pamrih, dan hanya mengharap ridha Allah semata. Jika hal tersebut terus dilakukan, bukan tak mungkin bangsa Indonesia menjadi bangsa yang memiliki kemandirian yang tak akan menjadi harapan semata. (ipw)

Share This